
Kurma (Phoenix dactylifera L.) merupakan
satu dari tanaman buah tertua yang ditanam di daerah arid (kering) di
Semenanjung Arab, Afrika Utara, dan Timur Tengah sejak 8000 tahun
sebelum Masehi. Daerah asal kurma yang paling mungkin adalah di atau
dekat Irak daerah yang dulu di kenal sebagai Babylonia pusat peradaban
tertua, tetapi penyebarannya ke banyak negara sudah sejak zaman dahulu.
Kurma adalah bahan pangan utama dan sumber penghasilan bagi penduduk
lokal di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan berperan besar dalam bidang
ekonomi, kemasyarakatan,dan lingkungan.
Kurma
termasuk ke dalam keluarga tanaman Palmaceae (Barrow, 1998). Tanaman
yang mempunyai nama latin Phoenix dactylifera ini dalam bahasa Arab
disebut dengan Tamr. Phoenix (bahasa Yunani) yang artinya buah merah
atau ungu dan “dactylifera” yang artinya “seperti jari” karena gerombol
buahnya seperti jari manusia. Pohon kurma merupakan tanaman jenis
dioecious, yaitu memiliki tanaman jantan dan betina yang hidup secara
terpisah.
Kurma dapat diperbanyak dengan anakan dan
biji. Perbanyakan dengan biji dapat terjadi bila biji dan kecambah
secara konstan terjaga kelembapannya. Kelemahan perbanyakan dengan biji
adalah tanaman baru berbuah setelah 7-10 tahun dan 70% dari kecambah
yang tumbuh umumnya akan menjadi tumbuhan jantan.Oleh
karena itu, perbanyakan yang paling baik dan banyak dilakukan adalah
melalui pemindahan anakan/offshoot yang telah berumur 3-5 tahun. Anakan
ini selanjutnya ditanam atau seringkali dijual. Pemindahan anakan harus
dilakukan dengan hati-hati agar anakan tidak mati di tempat barunya.
Terobosan perbanyakan kurma melalui
teknik kultur jaringan juga telah dilakukan di beberapa negara antara
lain Irak, Saudi Arabia, dan Kalifornia. yaitu dari ujung tunas baik
melalui embryogenesis atau organogenesis pertama kali dikembangkan tahun
1970 hingga 1980 an. Organogenesis dapat dicapai menggunakan tunas
samping dan meristem apikal, sedangkan embryogenesis melalui kalus yang
terbentuk dari tunas, daun muda, batang dan rachilla. Membutuhkan waktu 6
tahun untuk mencapai produksi melalui proses kultur jaringan.
Saat
ini Uni Emirat Arab (disingkat UEA) (bahasa Inggris: United Arab
Emirates) dan Ingris memiliki fasilitas kultur jaringan tanaman kurma
terbesar di dunia , lebih dari 350.000 tanaman kultur kurma ( tissue
culture) diproduksi setiap tahunnya karena produksi offshoot tidak dapat
memenuhi kebutuhan untuk pengadaan penanaman pohon-pohon di areal
perkebunan baru skala luas.
Di
Asia tenggara perkebunan kurma telah menunjukkan geliatnya, Negara
anggota ASEAN yang telah membudidayakan buah kurma secara besar-besaran
adalah Thailand dan Malaysia. Iklim negeri tetangga tersebut sangat
persis sekali dengan kondisi di tanah air kita bahkan kondisi tanah di
negara kita lebih subur jika di bandingkan kedua negara tetangga
tersebut, namun mereka sudah berhasil membudidyakanya kita tertinggal 10
tahun dari kedua negeri jiran ASEAN.
Indonesia
telah ketinggalan 11 tahun dari Thailand dan sekitar 8 tahun dengan
malaysia dalam hal budidaya kurma. Sejauh ini perkebunan kurma didalam
negeri kita masih baru dimulai,adakebun di bangka botanical garden dan
kebun yang telah dirintis oleh jonggol farm milik Muhaimin Iskandar
pemilik geraidinar.com berlokasi
di daerah Bogor – Jawa Barat, dan itupun dalam hal Kultur Jaringan
sepertinya masih melakukan penelitian lebih lanjut, belum maksimal
berproduksi. Kita jangan malu untuk belajar dari Thailand dan Malaysia
yang sudah sukses mengembangkan skala luas perkebunanya.
permintaan akan bibit kurma terus
meningkat dari tahun ke tahun, pembukaan lahan-lahan baru perkebunan
untuk budidaya tanaman yang masih kerabat sawit ini terus diperluas di
beberapa negara penghasil utama. Bagi perkebunan kurma sekala komersial
yang sudah berusia di atas 7-10 tahun mungkin tidak banyak membutuhkan
atau bahkan tidak perlu membeli bibit-bibit varietas kurma
yang telah dimiliki. Karena untuk memperluas perkebunan yang telah
dikelola, cukup mengandalkan tunas-tunas atau offshoot yang dihasilkan
dari tanaman induk telah berproduksi.
Tetapi, untuk membuka sebuah perkebunan
kurma skala komersial yang masih baru dan belum pernah memiliki
perkebunan sebelumnya, tentu membeli bibit unggul adalah sesuatu yang
wajib dan harus, kalau mengandalkan bibit dari biji sangat tidak efketif
selain susah menentukan bibit jantan dan betina juga usia berbuah
sangat lama 7-10 tahun baru berbuah. Agar mendapat bibit kurma dengan
tingkat produksi buah yang tinggi, serta standar varietas yang sesuai
dengan permintaan pasar domestik dan internasional – maka pilihan yang
tepat untuk saat ini adalah bibit kurma dengan metode
kultur jaringan. Bibit kultur jaringan sudah terbukti mampu
berprosuduksi buah di usia 3 tahun, waktu yang tidak terlalu lama
menunggu. Dalam era milenium ini kecepatan sangat penting dalam hal
produksi tanaman pangan.
Laboratorium Bibit Kurma Kultur Jaringan Internasional:
permintaan
akan bibit kurma terus meningkat dari tahun ke tahun, pembukaan
lahan-lahan baru perkebunan untuk budidaya tanaman yang masih kerabat
sawit ini terus diperluas di beberapa negara penghasil utama. Bagi
perkebunan kurma sekala komersial yang sudah berusia di atas 7-10 tahun
mungkin tidak banyak membutuhkan atau bahkan tidak perlu membeli
bibit-bibit varietas kurma yang telah dimiliki. Karena
untuk memperluas perkebunan yang telah dikelola, cukup mengandalkan
tunas-tunas atau offshoot yang dihasilkan dari tanaman induk telah
berproduksi.
permintaan
akan bibit kurma terus meningkat dari tahun ke tahun, pembukaan
lahan-lahan baru perkebunan untuk budidaya tanaman yang masih kerabat
sawit ini terus diperluas di beberapa negara penghasil utama. Bagi
perkebunan kurma sekala komersial yang sudah berusia di atas 7-10 tahun
mungkin tidak banyak membutuhkan atau bahkan tidak perlu membeli
bibit-bibit varietas kurma yang telah dimiliki. Karena
untuk memperluas perkebunan yang telah dikelola, cukup mengandalkan
tunas-tunas atau offshoot yang dihasilkan dari tanaman induk telah
berproduksi.
Laboratorium Bibit Kurma Kultur Jaringan – (Img credit D.P.D Ltd)
Tetapi,
untuk membuka sebuah perkebunan kurma skala komersial yang masih baru
dan belum pernah memiliki perkebunan sebelumnya, tentu membeli bibit
unggul adalah sesuatu yang wajib dan harus. Agar mendapat bibit kurma
dengan tingkat produksi buah yang tinggi, serta standar varietas yang
sesuai dengan permintaan pasar domestik dan internasional – maka pilihan
yang tepat untuk saat ini adalah bibit kurma dengan metode kultur jaringan.Teknologi Kultur Jaringan / Tissue Culture
Pengembangan bibit kurma metode Tissue Culture
akan menghasilkan varietas yang seragam dalam jumlah besar dengan
waktu singkat, untuk memproduksi melibatkan teknologi dan peralatan
mutakhir serta fasilitas yang lengkap. Teknologi kultur jaringan
merupakan cara paling efektif memproduksi bibit secara massal, jika di
indonesia sendiri sudah banyak laboratorium kultur jaringan,
namun belum ada yang memproduksi bibit kurma. Proses produksi untuk
menghasilkan bibit dengan jumlah besar, dalam waktu singkat di
masing-masing laboratorium adalah berbeda kapasitas-nya, berdasarkan
fasilitas dan besar kecilnya sebuah laboratorium itu sendiri.
Tenaga Ahli Laboratorium Pembibitan Kurma – (Img credit D.P.D Ltd)
Seperti contohnya, sebuah laboratorium pengembangan bibit kurma internasional D.P.D. Ltd. (Date Palm Developments) yang berpusat di Inggris, dengan melibatkan teknologi tinggi dan didukung fasilitas memadai, mampu memproduksi lebih dari 350.000 bibit kurma per tahun-nya. Artinya dalam satu bulan Laboratorium D.P.D tersebut mampu berproduksi lebih dari 29.000 bibit kurma setiap bulan, sungguh! jumlah yang cukup besar.Indonesia Impor Bibit Kurma dari D.P.D
Geliat
untuk membuka perkebunan kurma skala komersial di indonesia semakin
terasa, Jonggol Farm merupakan awal perkebunan kurma di indonesia dengan
impor bibit KULJAR (kultur Jaringan) dari D.P.D. Ltd, kurang lebih tiga
tahun silam (saat artikel ini di tulis). Dan sejak 4 Oktober 2015
terbentuknya Asosiasi Kurma Indonesia hingga saat artikel ini ditulis lebih dari 2.654 orang anggota tergabung dalam Asosiasi – juga telah melakukan impor bibit kurma tissue culture secara berjamaah dari laboratorium D.P.D ltd.
tersebut.Mereka mulai menanam kurma kultur jaringan secara kecil
sebagai riset sebelum mengembangkan ke skala yang lebih luas di
Indonesia, berjamaah belajar dan berbagi ilmu tentang perkurmaan.
Bahkan negara-negara penghasil kurma utama di berbagai belahan dunia , tak terkecuali para petani dan broker bibit kurma Thailand juga melakukan impor dari laboratorium D.P.D. Ltd. (Date Palm Developments) di Inggris.
